Selasa, 14 Maret 2017

Induksi Laktasi, untukmu buah hatiku

Gak ada hasil yang mengkhianati perjuangan, mungkin istilah yang tepat buat ngegambarin keberhasilan dari program induksi laktasi yg saya jalanin. why? because I did it...yes I did it.....

Semuanya berawal dari kabar gembira untuk saya dan suami saat itu. Kami akan memiliki anak kurang dari 5 minggu lagi 😍😍😍 whatssss? tunggu tunggu...saya kan ga hamil, gimana ceritanya 5 minggu bisa ngelahirin anak?
Ya memang ini bukan anak dari rahim saya, ini anak langsung dari Tuhan...yang hidup di rahim seorang wanita yang pada waktu itu diantarkan oleh cc saya karena membutuhkan orang yang berkenan merawat anak yg akan dilahirkannya nanti. Awalnya, cc saya yang berniat merawat anak tersebut. Namun, Tuhan berkehendak lain. di usia kandungan yang memasuki 28 minggu, cc saya hamil. karena ia merasa berat kemungkinan untuk merawat 2 anak dan ia ingat kepada sy yang sudah cukup lama sangat merindukan kehadiran seorang anak di kehidupan rumah tangga saya. makanya, semenjak wanita tersebut menginjakan kakinya di Bali. kesehatannya dan kesehatan kandungannya sampai lahir juga pulih nanti menjadi kewajiban saya merawatnya

Sambil menghitung hari kelahiran menurut prediksi dokter kandungan, saya mulai mencicil membeli segala kebutuhan dan printilan bayi baru lahir. Sudah jelas, saking excitednya saya udah ga dengar istilah beberapa orang yang bilang 'beli perabotan bayi gausah banyak gausah mahal, kepakenya gak lama'
Sampai dimana, saya dan suami memilih milih jenis botol susu dan memperhatikan setiap kandungan gizi dari beberapa susu formula yang terpampang sepanjang rak. dan akhirnya pilihan pun jatuh di salah satu brand ternama yang saat itu kami pilih.

Nah....ini adalah cerita awal dimana saat itu kami ( saya dan suami ) sedang galau karena kami sebelumnya sudah mengagendakan liburan akhir tahun bersama teman teman kami bergereja. Disitu memang kami belum berbagi cerita kalau kami saat ini sedang menantikan kelahiran seorang bayi. Sampai pada akhirnya chat group hari itu terus terusan menanyakan kesiapan kami untuk liburan akhir tahun tersebut. Dan akhirnya kami memutuskan untuk berterus terang dan batal ikut liburan akhir taun kali ini

Kami kira, kami akan mendapati muka penuh sebal dan kecewa karena LAGILAGI liburan akhir taun ini gagal, apalagi karena harus memaklumi kebahagiaan kami. Tapi ternyata mereka ikut berbahagia, dan menyarankan kami bertemu dengan seorang Ahli Laktasi di sebuah rumah sakit di Denpasar. menurut pengalaman mereka, beliau cukup kompeten di bidang perASIan. dan kepribadiannya yang baik, mau menjawab segala pertanyaan dan keingintahuan semua pasiennya.

Sampai dirumah, kamipun sempat merenung beberapa saat. berpikir 'apa bisa saya memberikan asi kepada anak saya nanti?' 'kalau bisa, alamikah asi yang keluar nanti?' dan  segala pikiran juga pertanyaan yang terus merasuki pikiran ini.
Ahhh daripada saya nanya sendiri jawab sendiri, googling pun belum banyak orang yang mencoba cara ini. ada sih saya menemukan beberapa sahabat Blogger menuliskan cerita proses menyusui anak adopsinya. tapi ga cukup untuk memenuhi rasa ingin tahu saya. Finally,saya coba aja untuk tanya kepada ahlinya. Sy coba hubungi beliau lewat nomor whatsapp yang diberikan teman saya. Dan dengan ramahnya beliau menjawab salam saya. Setelah mengecek jadwal kosong beliau, hari senin tanggal 21 November 2016 saya akan datang menemui beliau agar terjawab rasa penasaran saya.

Senin malam 21 November 2016,
First Impression saya, 'dokternya baik' kenapa nggak? waktu itu saya masih menunggu giliran dipanggil oleh resepsionis. tapi tibatiba ada seorang dokter yang menyapa saya di lobby poliklinik 'Ibu ya? Saya dr Oka...mari bu ke ruangan praktek saya, biar bapa yang menyelesaikan proses registrasi'

Pertemuan pertama kami waktu itu benar benar menjawab semua tanya sy. beliau menjelaskan mengenai program Induksi Laktasi. dimana PEREMPUAN YANG TIDAK HAMIL BOLEH DI RANGSANG AGAR DAPAT MENYUSUI BAYI. Program ini dapat dilakukan oleh adopter, nenek / kerabat yang berkeinginan menyusui.
Saat itu juga diterangkan berbagai macam manfaat memberikan ASI kepada anak. Saya semakin excited, apalagi saat membahas mengenai BONDING, Ikatan Batin antara ibu dengan anak kalau anak tersebut menyusu langsung.
Setelah dijelaskan beberapa proses dan tahapannya, saya dan suami pun setuju untuk memulai program ini.
Memang menurut dokter, secara teori program ini harusnya dilakukan min 6 bulan sebelum bayi lahir. Tapi, tetap kita coba saat itu juga. Dengan harapan program ini dapat berhasil kurang dari 6 bulan. Kalaupun, dalam 6 bulan ASI belum boleh keluar, dokter menyarankan pemberian ASI donor dibandingkan susu formula.

Sebagai awal dari proses program ini, saya diharuskan mengkonsumi pil kontrasepsi untuk 1 siklus di jam yang sama setiap harinya, dan Domperidone (3tablet x 3kali) sehari.
Menurut yang diterangkan dr Oka, ini gunanya semacam membangun 'PABRIK ASI' karena obat obatan tersebut membentuk hormon hormon dan mengkondisikan tubuh saya 'SEPERTI ORANG HAMIL'
Sebelum berpamitan, dr Oka pun menjadwalkan pertemuan berikutnya di hari ke-10 setelah hari ini.

Seminggu saya mengkonsumsi obat yang sudah diresepkan kemarin, terasa banyak perubahan yang saya rasakan.
menurunnya gairah seks melakukan hub suami istri, nafsu makan yang bertambah (baper : bawaannya lapeeer), jerawat di wajah dan punggung, payudara membesar dan areola yang melebar juga menghitam

Waktu saya kepikiran buat ngeganti ukuran cup BH, saya kira cukup naik 2 nomor (dari 36 ke 38) tapi ternyata disarankan sahabat saya langsung naik 4 nomor ke 40. Whaaaats? nggak TOO MUCH tuh? Tapi karena kata dia ini masih akan membesar, jadi ya saya manut cari BH size 40

Hari ke-12 ( 03 Desember 2016 )

Setelah jadwal sebelumnya sempat di reschedule karena dr Oka ada tugas lain. Sabtu, pagi ini saya bertemu lagi dengan beliau. Hari ini kita masuk di tahapan belajar massage payudara dan pijat relaktasi. Menurut beberapa sahabat saya yang juga pasien dr Oka, biasanya untuk sesi ini sang istri dr Oka yaitu Ibu Rani turut membantu. Namun waktu itu, apa mungkin karena Ibu Rani sibuk makanya dr Oka sendiri yang mengajari tekniknya. untuk Massage Payudaranya, itu bisa dilakukan sendiri oleh saya. namun untuk Pijat Relaktasi dilakukan oleh partner (suami). Kalau menurut saya, pijat relaktasi ini mirip seperti pijat akupuntur, selesai pijat rasanya cukup relax buat saya. Mungkin juga karena wewangian dari minyak nabati yg digunakan untuk massage (tidak disarankan baby oil ; menghindari rasa panas)

Nah, disini saya menitikan airmata. Untuk pertama kalinya saya takjub. WHY??? Sewaktu payudara saya di massage, dari puting saya keluar cairan bening, kental dan lengket. Menurut dr Oka itu sudah termasuk ASI yang keluar. mungkin  ini yang disebut kolostrum? sy juga kurang tau dan ga sempat tanya karena keburu merinding bahagia melihat cairan itu menetes. Terharu campur aduk pokonya SPEECHLESS....

[URL=http://www.imagebam.com/image/561291538137965][IMG]http://thumbnails117.imagebam.com/53814/561291538137965.jpg[/IMG][/URL]

Selesai sesi pengajaran massage payudara dan pijat relaktasi hari itu, dr Oka memberi tahu saya untuk melakukan masaage payudara per 3-4jam/ sekali, setiap harinya.
Ya saya disini dituntut disiplin dan komitmennya untuk sedikit repot menyempatkan waktu sebentar untuk massage payudara. Sementara pijat relaktasi dari suami saya sendiri, cukup 1hari sekali.

06 Desember 2016

hari itu saya panik. bayi didalam perut si ibu tidak pernah memberikan sinyal 'kontraksi palsu' sejak 10 hari terakhir. akhirnya saya disarankan untuk kontrol ke rumah sakit oleh sahabat saya.
dokter Spog yang disarankan sahabat saya malah sakit. akhirnya saya buruburu ke rumah sakit di daerah teuku umar siang itu, jam 1siang lewat 8 menit saya terlambat 8 menit dan dokter Spog nya sudah selesai jam praktek. dan sedang persiapan operasi. diinfokan oleh perawat untuk datang lagi di malam hari jam 7.
malam harinya, waktu dokter membacakan hasil rekam jantung. saya sangat syok, karena menurut hasilnya, detak jantung bayi sempat hilang 2kali. dan menyarankan untuk operasi caesar di keesokan harinya.

07 Desember 2016

dalam keadaan si ibu yang sedang berpuasa menanti waktu operasi caesar, sy memohon maaf karena saya mau mencoba cari jawaban dari dokter Spog lain pagi itu.

karena saya dapat meilhat ketakutan pada si ibu yang belum pernah melakukan operasi semasa hidupnya.

Pagi itu, kami ( saya dan ibu hamil ) memeriksakan kembali kandungannya. dan dokter yang berbeda menyarankan harus operasi Caesar hari itu juga melihat kondisi aur ketuban yang sudah kering.

11.30 wita, telah lahir anak laki laki dengan berat 3000 gram dan panjang 50cm. yang kami beri nama Bara yang artinya ; sudah ditebus Tuhan

Namun, sampai 3 jam pasca kelahirannya, Bara harus masuk ruang NICU untuk di observasi karena sempat kekurangan oksigen. baru jam 15.00 akhirnya Bara berada satu ruangan berkumpul bersama mama dan maminya.

karena ASI saya belum keluar, kami menggunakan ASI donor untuk sementara. ASI donor ini kami dapat seminggu yang lalu dari pasien dr Oka juga. cepat cepat suami saya whatsapp dr Oka belajar mengenai pasteurisasi ASI donor. media yang kami gunakan untuk menyuapi Bara menggunakan sendok.

10 Desember 2016

Bara diperbolehkan pulang kerumah, disini dr Oka menyarankan saya belajar menyusui Bara menggunakan SNS ( Supplemental Nursing System ) untuk merangsang ASI saya agar mau keluar. dan mulai pumping 2jam sekali.

Saya sempat dibantu belajar perlekatan oleh sahabat saya yang waktu itu datang kerumah untuk menjenguk Bara. tapi jujur saja menyusui menggunakan SNS itu repot bagi saya. mungkin karena Bara kehausan saat itu, ia sering menarik narik selang SNS sampai copot dan copot lagi. sampai saya nyerah dan akhirnya menyuapi pakai sendok lagi.

Hasil pumping saya pun belum kelihatan, baru embun embun yang bermunculan, sampai hari ke-4 (14Desember 2016) hasil pumping saya dapat 10ml (pil kontrasepsi saya sudah selesai 1 siklus). senangnyaaa...saya langsung ceritakan kepada dr Oka dan bertanya bolehkah saya memberikan asi tersebut kepada Bara. dan katanya BOLEH

hari itu juga, 10ml ASI pertama saya, saya berikan untuk Bara. percayalah, tangan saya gemetar memegang sendok saat menyuapinya. begitu habis, saya semangat untuk pumping lagi.

[URL=http://www.imagebam.com/image/6bb0ff538138369][IMG]http://thumbnails117.imagebam.com/53814/6bb0ff538138369.jpg[/IMG][/URL]

dan saat itu juga dr Oka bilang sama saya buat belajar menyusui langsung.
to be honest...ini perjuangan ! areola saya lecet lecet dan Bara nangis karena mungkin ASI yang keluar masih belum cukup mengenyangkan Bara. kalau saya sudah mulai gakuat nahan sakit lecetnya, saya suapi lagi Bara dengan ASI donor atau ASIP saya.

ada 2 kemungkinan penyebab areola saya lecet, perlekatan yang salah atau ada tongue tie dan lip tie di Bara. sempat di check oleh dr anak nya waktu itu, dan katanya tongue tie nya masih normal. cuma perlekatannya yang masih kurang tepat.

kalau saya mulai ngerasa lecet, saya cuma dibesarkan oleh katakata 'saya tidak merasakan sakitnya melahirkan, jadi kalau hanya sakit karena menyusui. seharusnya saya bisa terima'

Seminggu berlalu, saat saya mulai konsumsi teh fenugreek sesuai anjuran dr Oka ( saat itu untuk mendapat kapsul harus pesan online ) dan juga makan makanan yg dapat meningkatkan jumlah produksi ASI seperti kacang kacangan, sayur hijau dan makanan sehat lainnya. hasil pumping saya semakin memuaskan, more than 30ml...

[URL=http://www.imagebam.com/image/91d9ed538138483][IMG]http://thumbnails117.imagebam.com/53814/91d9ed538138483.jpg[/IMG][/URL]

sambil saya terus belajar menyusui Bara. saya sempatkan disela sela waktu saya untuk pumping.

Gak kerasa, Bara sudah sebulan. dan sekarang Bara sudah full minum ASI saya, tapi betapa sedihnya waktu kenaikan berat badan Bara hanya 500gram dalam sebulan.
memang, menurut beberapa dokter anak. bayi usia 1 bulan minimal beratnya kembali ke berat waktu lahir. ada juga yang bilang untuk bayi laki laki minimal kenaikan 800 gram.
Tapi, menurut saya Bara itu sangat kuat sekali minumnya, makanya ekspetasi saya seharusnya ia naik sesuai 800 gram.

kesedihan hati saya, saya tumpahkan saat itu juga kepada dr Oka. saya galau, apa mungkin ASI saya ga cukup untuk Bara. atau ASI saya ga cocok untuk Bara.
dan akhirnya dr Oka ingin memeriksa kondisi tongue tie Bara di keesokan harinya.

Ternyata benar, Bara ada tongue tie dan lip tie level 3 atau 4 ( saya lupa ) sehingga ia kurang maksimal nenennya dan dr Oka menyarankan untuk tindakan insisi yaitu pemotongan pada bagian yang mengganggu tersebut.
saya lemas, saya ga berani menemani Bara waktu itu
saya ga sanggup kalau harus melihat Bara nangis meronta ronta kesakitan. akhirnya, suami saya yang menemani Bara saat itu. dari balik tirai, saya menangis mendengar Bara menangis. bahkan waktu saya disuruh menyiapkan payudara untuk menyusui Bara. tangan saya gemetar membuka kancing pakaian saya.
'maafkan mami nak, ini demi kebaikan kita berdua. Bara nanti nenennya kenyang dan berat badan Bara naiknya sesuai. mami juga ga kesakitan lecet lagi waktu nyusuin Bara.' bisik saya saat menyusui Bara yang masih menangis.

Selain mengatasi tongue tie dan lip tie Bara, dr Oka juga mengajarkan saya untuk memberikan hindmilk kepada Bara agar target berat badannya Bara terkejar.

Caranya, saya pumping dulu payudara saya kurleb 5 menit untuk mengeluarkan formilknya, baru kemudian dilanjutkan Bara menyusu.
disitu saya berpikir bagaimana untuk tidak membuang ASI formilk yang 5 menit sudah saya pumping.
Jadi saya mencoba, kalau payudara kanan saya pumping 5 menit lalu lanjut menyusui Bara. sambil menyusui, saya pumping yang kirinya. jadi hasil pumpingnya bisa saya simpan, sewaktu waktu saya atau ada orang lain yang membutuhkan :)

Ternyata benar, 1 bulan kemudian waktu Bara berusia 2 bulan. kenaikan berat badan Bara sampai 1500 gram. saya amaze....Puji Tuhan.
begitupun di bulan berikutnya, kenaikan berat badan bara 1400 gram.

Sekarang, Maret 2017 usia Bara sudah 3 bulan dan berat badannya 6.400 gram dan tingginya 59cm.
Saya bersyukur Bara boleh tumbuh sehat sampai hari ini. dan harapan saya sampai seterusnya. Perjuangan yang sebenarnya baru dimulai, mudah mudahan saya lulus menyusui Bara sampai 2 tahun.

Kalau dilihat dari perjalanan program induksi laktasi ini, saya bersyukur sekali dipertemukan dengan orang orang baik. seperti sahabat saya yang gapernah berhenti support kak Rita dan Ci Qhaqha . dr Oka Dharmawan IBCLC MARS.  Keluarga Pak Adit yang sudah mendonorkan ASI  juga keluarga Rumah ASI Bali. Terimakasih buat semua yang ga bisa saya ucapkan satu persatu.

Meskipun awalnya saya sempat takut ASI saya ga keluar di 6 Bulan pertama. tapi Puji Tuhan ga sampai 1 bulan ASI saya udah mau keluar. semua berkat penyertaan Tuhan

Saya ingin membuka mata kepada semua sahabat pejuang ASI, yang mulai kendor semangat menyusuinya. Ayo semangat lagi....kalau saya bisa, para mommy dan bunda hebat lainnya pasti bisa juga !!

'While breastfeeding may not seem the right choice for every parents, its THE BEST choice for every baby'

7 komentar:

  1. Aww so inspiring! Thank you udah berbagi ceritanya ya beb. Sumpeh eke aja gatau Ada yg namanya induksi laktasi. Smoga Bara tumbuh sehat selalu yaaaa..

    BalasHapus
  2. Aahhh terharuu banget. Semoga bara sehat selalu yaa. Semangat mengASIhi

    BalasHapus
  3. Terharu & mewekkk bacanya,, selamat ya mbk & smga Bara sehat trus

    BalasHapus
  4. Sampai mewek bacanya
    Semangat mengasihi mom
    Bara tumbuh sehat ya nak

    BalasHapus
  5. Sampai mewek bacanya
    Semangat mengasihi mom
    Bara tumbuh sehat ya nak

    BalasHapus
  6. Terima kasih sharing pengalamannya bu Chasya.diatas segalanya Faith ibu yang paling membantu.selalu semangat Mengasihi,semoga Bara selalu sehat dan dan mencintai mami papinya

    BalasHapus
  7. Sampai netes air mata saya, baca pengalaman mam... Dan ini membuat saya makin semangat untuk mengASIhi dedek... Kak Bara sehat2 ya.

    BalasHapus